Fika11’s Weblog


Belajar Islam Mulai Diminati Negara Barat
Mei 5, 2009, 3:30 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

Semakin meningkatnya siswi yang mempelajari pelajaran akademi sekaligus memperdalam pengetahuan mereka tentang Islam, sekolah Islam Al Arqam juga semakin bersinar di Sacramento, ibu kota negara bagian California.

“Mereka (Al Arqam) mengajari apa yang perlu kami ketahui tentang Islam,” kata salah satu siswi di Al Arqam yang berusia 14 tahun, Ramseesha Sattar pada Jumat 13 Maret lalu.
Di dalam sekolah, para siswi diajarkan tentang keutamaan menggunakan Jilbab, menggunakan pakaian sopan namun tetap berkelas, serta memelankan suara ketika terdapat pria di sekitar mereka.
“Saya sangat menyukai berada di sini, dan peraturan-peratutan tersebut tidaklah berat bagiku.”
Berdiri sejak 11 tahun lalu, Al Arqam secara resmi telah mendapat akreditasi dari Asosiasi Sekolah dan Kampus Barat (WASC) sebagai satu-satunya sekolah Islam di wilayah California.
Al Arqam juga telah mendapat persetujuan dari ke-Sarjana-an Internasional sebagai sekolah pertama yang mendapat izin untuk membuka kelas privat (kelas yang biasanya hanya berisi 2-8 siswa) di California.
Sejauh ini sekolah tersebut telah menampung sekitar 300 pelajar, dengan 50 lainnya telah masuk dalam daftar tunggu untuk tingkat pendidikan yang lebih rendah.
Terlebih, karyawan sekolah tesrebut mengutarakan bahwa kebanyakan orang tua dari pelajar Muslim memilih sekolah tersebut daripada sekolah umum agar anak mereka mendapat pengetahuan yang cukup tentang Islam.
“Masyarakat Muslim di sini sangat menghargai pentingnya pendidikan,” kata Wakil Kepala Sekolah Dalia Wardany, yang juga memiliki tiga anak yang bersekolah di Al Arqam.
“Mereka mencari lingkungan yang dapat mengajarkan anak-anak mereka mengenai nilai-nilai Islam.”
Meski berasal dari latar belakang, suku, dan budaya berbeda, para pelajar berbagi satu agama, keyakinan, serta seragam yang menyatukan mereka.
Ketika jam menunjukkan pukul 13.15, para pelajar berhenti dari kegiatan belajar mereka dan bersiap melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah.
“Tidak ada sekolah yang memberikan pendidikan semacam ini,” kata seorang wali murid, Gihad Silmi.
Sekolah tersebut juga telah dinilai berhasil membuka mata rakyat Amerika tentang pandangan mereka terhadap gaya hidup Islam dan Muslim.
“Sekolah tersebut sungguh telah membuka mataku,” kata Angelique Bradley, seorang wali murid SMP St. Francis yang pernah sekali waktu mengunjungi Al Arqam guna mempelajari tentang Islam.
“Saya tidak menyangka sekolah seperti ini dapat berdiri di sini.”
“Saya sangat terkesan dengan sikap para pelajar di sini, terutama sikap sopan mereka ketika menghadapi pengajar,” kagumnya.
Namun, kekaguman tersebut nampaknya belum dirasakan warga Amerika lainnya.
Ossama Kamel, seorang pelajar berusia 15 tahun, seringkali berolah raga bersama beberapa teman non-Muslimnya yang menyindirnya tentang ukuran kelasnya.
“Mereka mengejek, “Di kelasmu hanya ada empat siswa?,” kata Kamel sambil tertawa.
Namun dia mengerti bahwa sedikitnya jumlah pelajar bertujuan agar segala bentuk pelajaran dapat diterima dengan lebih baik.
“Mereka pikir kami dilatih untuk menjadi teroris,” keluh Kamel.
Menurut jajak pendapat yang dilakukan Pusat Penelitian Gereja, sebagian besar penduduk Amerika tidak mengetahui banyak tentang Islam, dan hal tersebut membuat mereka tidak mengakui adanya hubungan antara Islam dan Nasrani.
“Kami belajar bagaimana cara menjadi Muslim yang baik – Muslim Amerika yang baik,” tutup Kamel.



Islam
Desember 25, 2008, 2:53 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

ISLAM, IMAN DAN IHSAN
SEBAGAI TRILOGI AJARAN ILAHI

oleh Nurcholish Madjid

Di antara perbendaharaan kata dalam agama  Islam  ialah  iman,
Islam  dan  ihsan.  Berdasarkan  sebuah  hadits yang terkenal,
ketiga istilah itu memberi  umat  Islam  (Sunni)  ide  tentang
Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang
penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup.  Dalam
penglihatan  itu  terkesan  adanya semacam kompartementalisasi
antara  pengertian  masing-masing  istilah  itu,    seolah-olah
setiap  satu  dari  ketiga  noktah  itu  dapat dipahami secara
tersendiri, dapat bentuk sangkutan tertentu dengan yang lain.

Sudah tentu hakikatnya tidaklah demikian. Setiap pemeluk Islam
mengetahui  dengan  pasti  bahwa  Islam (al-Islam) tidak absah
tanpa iman (al-iman), dan  iman  tidak  sempurna  tanpa  ihsan
(al-ihsan).  Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan
iman juga tidak mungkin  tanpa  inisial  Islam.  Dalam  telaah
lebih lanjut oleh para ahli, ternyata pengertian antara ketiga
istilah itu terkait satu  dengan  yang  lain,  bahkan  tumpang
tindih sehingga setiap satu dari ketiga istilah itu mengandung
makna dua istilah yang lainnya. Dalam iman terdapat Islam  dan
ihsan,  dalam  Islam  terdapat  iman dan ihsan dan dalam ihsan
terdapat iman dan Islam. Dari  sudut  pengertian  inilah  kita
melihat iman, Islam dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahi.

Trilogi  itu  telah  mendapatkan ekspresinya dalam banyak segi
budaya Islam. Arsitektur masjid Indonesia yang banyak diilhami
oleh,  dan  pinjam  dari, gaya arsitektur kuil Hindu, mengenal
adanya seni arsitektur atap bertingkat tiga.  Seni  arsitektur
itu  sering  ditafsirkan  kembali sebagai lambang tiga jenjang
perkembangan  penghayatan  keagamaan  manusia,  yaitu  tingkat
dasar  atau  permulaan  (purwa),  tingkat menengah (madya) dan
tingkat akhir yang maju dan tinggi (wusana). Dan ini  dianggap
sejajar dengan jenjang vertikal Islam, iman, dan ihsan, selain
juga ada tafsir kesejajarannya dengan syari’at,  thariqat  dan
ma’rifat.  Dalam  bahasa  simbolisme,  interpretasi  itu hanya
berarti penguatan pada apa yang secara laten telah  ada  dalam
masyarakat.

Berikut  ini  kita  akan  mencoba, berdasarkan pembahasan para
ulama,  apa  pengertian  ketiga  istilah  itu  dan    bagaimana
wujudnya   dalam   hidup   keagamaan  seorang   pemeluk  Islam.
Diharapkan  bahwa  dengan  memahami  lebih   baik    pengertian
istilah-istilah yang amat penting itu kemampuan kita menangkap
makna luhur agama dan pesan-pesan sucinya dapat ditingkatkan.

Pembahasan secara berurutan pengertian istilah-istilah di atas
-  pertama Islam, kemudian iman dan akhirnya ihsan – dilakukan
tanpa harus dipahami sebagai pembuatan kategori-kategori  yang
terpisah  -  sebagaimana sudah diisyaratkan – melainkan karena
keperluan untuk memudahkan pendekatan analitis belaka. Dan  di
akhir  pembahasan  ini  kita  akan  mencoba  melihat relevansi
nilai-nilai keagamaan dari iman,  Islam  dan  ihsan  itu  bagi
hidup  modern,  dengan  mengikuti pembahasan oleh seorang ahli
psikologi yang sekaligus seorang pemeluk  Islam  yang  percaya
pada  agamanya  dan mampu menerangkan bentuk-bentuk pengalaman
keagamaan Islam.

MAKNA DASAR ISLAM

Ada indikasi bahwa Islam adalah  inisial  seseorang  masuk  ke
dalam  lingkaran  ajaran  Ilahi.  Sebuah  Ayat Suci melukiskan
bagaimana orang-orang Arab Badui mengakui telah  beriman  tapi
Nabi diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka
belumlah beriman melainkan baru ber-Islam,  sebab  iman  belum
masuk  ke  dalam  hati  mereka  (lihat, QS. al-Hujarat 49:14).
Jadi, iman lebih mendalam daripada Islam, sebab dalam  konteks
firman  itu,  kaum  Arab  Badui tersebut barulah tunduk kepada
Nabi secara lahiriah, dan itulah  makna  kebahasaan  perkataan
“Islam”,  yaitu  “tunduk” atau “menyerah.” Tentang hadits yang
terkenal yang menggambarkan  pengertian  masing-masing  Islam,
iman  dan  ihsan,  Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa agama memang
terdiri dari tiga unsur: Islam, iman  dan  ihsan,  yang  dalam
ketiga  unsur  itu  terselip  makna  kejenjangan:  orang mulai
dengan Islam, berkembang ke  arah  iman,  dan  memuncak  dalam
ihsan. Ibn Taimiyah menghubungkan pengertian ini dengan firman
Allah,  “Kemudian  Kami  (Allah)  wariskan  Kitab  Suci    pada
kalangan para hamba Kami yang Kami pilih, maka dari mereka ada
yang (masih) berbuat  zalim,  dari  mereka  ada  yang   tingkat
pertengahan  (muqtashid),  dan  dari  mereka ada yang bergegas
dengan berbagai  kebijakan  dengan  izin  Allah”  (QS.   Fathir
35:32).  Menurut  Ibn  Taimiyah,  orang  yang menerima warisan
Kitab  Suci  (yakni,   mempercayai   dengan    berpegang   pada
ajaran-ajarannya)  namun masih juga berbuat zalim adalah orang
yang baru ber-Islam, menjadi  seorang  Muslim,  suatu  tingkat
permulaan  pelibatan  dari dalam kebenaran. Ia bisa berkembang
menjadi seorang yang beriman, menjadi  seorang  mu’min,  untuk
mencapai  tingkat  yang  lebih  tinggi, yaitu tingkat menengah
(muqtashid), yaitu orang yang telah  terbebas  dari  perbuatan
zalim,  namun perbuatan kebajikannya sedang-sedang saja. Dalam
tingkatnya yang lebih tinggi, pelibatan diri  dalam  kebenaran
itu  membuat  ia tidak saja terbebas dari perbuatan jahat atau
dzalim dan berbuat baik,  bahkan  ia  “bergegas”  dan   menjadi
“pelomba”  atau “pemuka” (sabiq) dalam berbagai kebaiikan, dan
itulah orang yang telah ber-ihsan,  mencapai  tingkat  seorang
muhsin.  Orang  yang  telah  mencapai tingkat muqtashid dengan
imannya dan tingkat sabiq dengan ihsan-nya, kata Ibn Taimiyah,
akan masuk surga tanpa terlebih dulu mengalami azab. Sedangkan
orang yang pelibatannya dalam kebenaran baru mencapai  tingkat
ber-Islam  sehingga masih sempat berbuat dzalim, ia akan masuk
surga setelah terlebih dulu merasakan azab akibat dosa-dosanya
itu.  Jika  ia tidak bertobat tidak diampuni Allah (Lihat, Ibn
Taimiyah, al-Iman  [Kairo:  Dar  al-Thiba'at  al-Muhammadiyah,
tt.], hal. 11).

Pada  saat ini, tentu saja, kata-kata “al-Islam” telah menjadi
nama sebuah agama,  khususnya  agama  yang  dibawa  oleh   Nabi
Muhammad saw. yaitu agama Islam. Tapi, secara generik, “Islam”
bukanlah nama dalam arti kata sebagai nama jenis  atau  sebuah
proper noun. Dan ini melibatkan pengertian tentang istilah itu
yang lebih mendalam,  yang  justru  banyak  diketemukan  dalam
Kitab  Suci.  Perkataan  itu,  sebagai  kata benda verbal yang
aktif, mengandung pengertian sikap pada sesuatu, dalam hal ini
sikap  pasrah  atau  menyerahkan  diri kepada Tuhan. Dan sikap
itulah yang disebutkan sebagai sikap keagamaan yang benar  dan
diterima  Tuhan:  “Sesungguhuya  agama  bagi Allah ialah sikap
pasrah pada-Nya (al-Islam) (QS. Al-Imran  3:19).  Maka  selain
dapat  diartikan sebagai nama sebuah agama, yaitu agama Islam,
perkataan al-Islam dalam  firman  ini  bisa  diartikan  secara
lebih  umum,  yaitu  menurut makna asal atau generiknya, yaitu
“pasrah kepada Tuhan,” suatu semangat ajaran  yang  menjadikan
karakteristik  pokok  semua  agama  yang  benar.  Inilah dasar
pandangan dalam al-Qur’an bahwa semua agama yang benar  adalah
agama  Islam,  dalam  pengertian  semuanya  mengajarkan   sikap
pasrah kepada Tuhan, sebagaimana antara lain bisa  disimpulkan
dari firman.

Dan  janganlah  kamu sekalian berbantahan dengan para penganut
Kitab Suci (Ahl al-Kitab) melainkan dengan  yang  lebih  baik,
kecuali  terhadap  mereka  yang dzalim. Dan nyatakanlah kepada
mereka itu, “Kami beriman kepada Kitab  Suci  yang  diturunkan
kepada kami dan kepada yang diturunkan kepada kamu; Tuhan kami
dan  Tuhan  kamu  adalah  Maha  Esa,  dan  kita   semua  pasrah
kepada-Nya (muslimun) (Q.S. al-’Ankabut 29:46).

Sama dengan perkataan “al-Islam” di atas, perkataan “muslimun
dalam  firman  itu  lebih  tepat   diartikan    menurut   makna
generiknya, yaitu “orang-orang yang pasrah kepada Tuhan.” Jadi
seperti diisyaratkan  dalam  firman  itu,  perkataan  muslimun
dalam  makna  asalnya  juga  menjadi  kualifikasi para pemeluk
agama lain, khususnya  para  penganut  Kitab  Suci.  Ini   juga
diisyaratkan dalam firman,

Apakah  mereka  mencari  (agama)  selain  agama Tuhan? Padahal
telah pasrah (aslama – “ber-Islam”) kepada-Nya mereka yang ada
di  langit  dan di bumi, dengan taat atau pun secara terpaksa,
dan kepada-Nya-lah semuanya akan kembali.  Nyatakanlah,  “Kami
percaya kepada Tuhan, dan kepada ajaran yang diturunkan kepada
kami, dan yang  diturunkan  kepada  Ibrahim,  Isma’il,  Ishaq,
Ya’qub  serta  anak  turun mereka, dan yang disampaikan kepada
Musa dan ‘Isa serta para Nabi yang  lain  dari  Tuhan  mereka.
Kami  tidak  membeda-bedakan mereka itu, dan kita semua pasrah
(muslimun) kepada-Nya. Dan barang siapa menganut agama  selain
sikap  pasrah  (al-Islam)  itu, ia tidak akan diterima, dan di
akkirat termasuk orang-orang  yang  merugi.  (QS.  ‘Alu-’lmran
3:85).

Ibn   Katsir   dalam  tafsirnya  tentang  mereka   yang  pasrah
(muslimun) itu mengatakan yang  dimaksud  ialah  “mereka  dari
kalangan  umat  ini  yang percaya pada semua Nabi yang diutus,
pada  semua  Kitab  Suci   yang   diturunkan,    mereka   tidak
mengingkarinya sedikitpun, melainkan menerima kebenaran segala
sesuatu yang diturunkan dari sisi Tuhan dan dengan semua  Nabi
yang  dibangkitkan oleh Tuhan” (Tafsir Ibn Katsir [Beirut: Dar
al-Fikr,  1404  H/1984  M),  jilid  1,  hal.  380).   Sedangkan
al-Zamakhsari  memberi  makna  pada perkataan Muslimun sebagai
"mereka yang bertawhid dan mengikhlaskan diri  pada-Nya,"  dan
mengartikan  al-Islam sebagai sikap memaha-esakan (ber-tawhid)
dan  sikap  pasrah  diri  kepada  Tuhan"  (taisir   al-Kaskshaf
[Teheran:  Intisharat-e  Aftab,  tt.] jilid 1, hal. 442). Dari
berbagai keterangan itu dapat ditegaskan bahwa beragama  tanpa
sikap pasrah kepada Tuhan, betapapun seseorang mengaku sebagai
“muslim” atau penganut “Islam”, adalah tidak benar  dan   tidak
bakal diterima oleh Tuhan.

Selanjutnya,  penjelasan  yang  sangat  penting  tentang makna
“al-Islam” ini juga diberikan oleh Ibn Taimiyah. Ia mengatakan
bahwa  “al-Islam”  mengandung dua makna adalah: pertama, ialah
sikap tunduk dan patuh, jadi tidak sombong;  kedua,  ketulusan
dalam  sikap tunduk kepada satu pemilik atau penguasa, seperti
difirmankan Allah, “wa rajul-an  salam-an  li  rajul-in”   (Dan
seorang  lelaki  yang  tulus  tunduk kepada satu orang lelaki)
(QS. al-Zumar 39:29). Jadi orang yang tulus itu tidak musyrik,
dan  ia  adalah  seorang hamba yang berserah diri hanya kepada
Allah, Pangeran sekalian alam, sebagaimana Allah firmankan:

Dan siapalah yang tidak  suka  kepada  agama  Ibrahim  kecuali
orang  yang  membodohi  dirinya  sendiri. Padahal sungguh Kami
telah memilihnya di dunia, dan ia di akhirat pastilah termasuk
orang-orang  yang  salih.  Ketika Tuhannya bersabda kepadanya,
“Berserah dirilah engkau!’, lalu ia  menjawab,  “Aku  berserah
diri  (aslam-tu)  kepada Tuhan seru sekalian alam.” Dan dengan
ajaran itu Ibrahim berpesan kepada anak-anaknya, demikian pula
Ya’qub.   “Wahai   anak-anakku,   sesungguhnya    Allah   telah
memilihkan agama untuk kamu sekalian,  maka  janganlah  sampai
kamu   mati   kecuali  kamu  adalah  orang-orang   yang  pasrah
-muslimun- (kepada-Nya) (Q.S. al-Baqarah 2:130-132).

Katakanlah (hai hluhammad), “,Sesungguhnya  aku  telah  diberi
petunjuk  oleh  Tuhanku  ke arah jalan yang lurus. Yaitu agama
yang tegak, ajaran  Ibrahim,  yang  hanif,  dan  tidaklah   dia
termasuk  orang-orang  musyrik.”  Katakan juga (hai Muhammad),
“Sesungguhnya sembahyangku, darmabaktiku, hidupku  dan  matiku
adalah untuk Allah seru sekalian alam, tiada serikat bagi-Nya.
Begitulah aku diperintahkan, dan aku adalah yang pertama  dari
kalangan orang-orang yang pasrah.” (QS. al-An’am 6:161-163).

Dan  kembalilah  kamu  semua  kepada  Tuhanmu,  serta berserah
dirilah kamu semua (aslimu)  kepada-Nya  sebelum  tiba  kepada
kamu  azab,  lalu  kamu  tidak  tertolong  lagi. (QS. al-Zumar
39:54).

Demikian itu  sebagian  dari  penjelasan  yang  diberikan   Ibn
Taimiyah  tentang  makna al-Islam [lihat, Ibn Taimiyah, al-Amr
bi al-Ma'ruf wa al-Nahy 'an al-Munkar  (Beirut:  Dar  al-Kitab
al-Jadid,  1976, hal. 72-3). Berdasarkan pengertian-pengertian
itu juga harus dipahami penegasan dalam al-Qur'an bahwa  semua
agama  para  Nabi  dan  Rasul adalah agama Islam. Yakni, agama
yang mengajarkan sikap tunduk dan patuh, pasrah  dan  berserah
diri  secara  tulus  kepada  Tuhan  dengan  segala   qudrat dan
iradat-Nya. Maka sebagai  misal,  mengenai  Nabi  Ibrahim  as.
ditegaskan  bahwa  dia bukanlah seorang penganut agama komunal
seperti Yahudi atau Nasrani, melainkan dia adalah seorang yang
tulus  mencari dan mengikuti kebenaran (hanif) dan yang pasrah
kepada Tuhan (muslim) (QS. 'Ali 'Imran 3:67).  Demikian  agama
seluruh  Nabi  keturunan  Ibrahim,  khususnya anak-cucu Ya'qub
atau Bani Israil, sebagaimana dilukiskan dalam penuturan Kitab
Suci, demikian:

Adakah kamu menyaksikan tatkala maut datang kepada Ya'qub, dan
ketika ia bertanya kepada anak-anakuya, "Apakah yang akan kamu
sekalian   sembah   sepeninggalku?"   Mereka   menjawab,  "Kami
menyembah Tuhanmu dan Tuhan leluhurmu,  Ibrahim,  Isma'il  dan
Ishaq,  yaitu  Tuhan  Yang Maha Esa, dan kepada-Nya kamu semua
pasrah (muslim)
(QS al-Baqarah 2:133).

Kemudian tentang Nabi  Musa  as.  digambarkan  melalui  ucapan
pertobatan  Fir'aun  bahwa dia, Nabi Musa, membawa ajaran agar
manusia pasrah (muslim) kepada Tuhan. Dengan begitu,  agamanya
pun  sebuah  agama Islam. Kata Fir'aun! yang berusaha bertobat
setelah melihat kebenaran,  "Aku  percaya  bahwa  tiada   Tuhan
kecuali  yang  dipercayai  oleh  Bani Israil, dan aku termasuk
orang-orang yang pasrah  -muslimun-  (kepadaNya)
"  (QS.  Yunus
90:10).  Demikian pula, sebuah ilustrasi tentang Nabi 'Isa dan
para pengikutnya, menunjukkan bahwa  agama  yang  diajarkannya
pun   adalah   sebuah  agama  Islam,  dalam  arti   agama  yang
mengajarkan sikap pasrah kepada-Nya:

Maka ketika 'Isa merasakan adanya  sikap  ingkar  dari  mereka
(kaumnya),  ia  berkata,  "Siapa yang akan menjadi pendukungku
kepada Allah?" Para pengikut setianya (al-Hawariyyun) berkata,
"Kamilah  para  pendukung  (menuju) Allah, kami beriman kepada
Allah, dan saksikanlah  bahwa  kami  adalah  orang-orang  yang
pasrah -muslimun- (kepada-Nya).
(QS. 'Ali 'Imran 3:52).

Karena  semua  agama  yang benar adalah agama yang mengajarkan
sikap pasrah kepada Tuhan, maka tidak  ada  agama  atau  sikap
keagamaan yang bakal diterima Tuhan selain sikap pasrah kepada
Tuhan atau Islam itu. Dan karena Islam pada dasarnya  bukanlah
suatu  proper  name  untuk  sebuah  agama tertentu (para Nabi,
Rasul dan umat terdahulu yang  digambarkan  dalam  Kitab  Suci
sebagai  orang-orang  yang  pasrah  kepada Tuhan itu pun tidak
menggunakan lafal harfiah  "Islam"  atau  pun   "muslim")  maka
orang  pemeluk  Islam sekarang ini, juga seorang muslim, masih
tetap dituntut untuk mengembangkan dalam dirinya kemampuan dan
kemauan  untuk  tunduk  patuh  serta  pasrah dan terserah diri
kepada Tuhan dengan setulus-tulusnya. Hanya dengan  itu  agama
dan keagamaan bakal diterima Allah, dan di akhirat tidak bakal
termasuk mereka yang merugi. Inilah yang  sebenarnya  dimaksud
oleh  firman  Allah,  "Sesungguhnya  agama  bagi  Allah   ialah
al-Islam (yaitu sikap pasrah yang tulus kepada-Nya) (QS.  'Ali
'Imran  3:19),  serta  firman Allah: "Dan barangsiapa menganut
selain al-Islam (sikap pasrah kepada Allah) sebagai agama maka
ia tidak akan diterima, dan di akhirat ia akan termasuk mereka
yang menyesal"- (QS. 'Ali 'Imran  3:85).  Sudah  terang  bahwa
Islam  dalam  pengertian  ini  mustahil  tanpa iman, karena ia
dapat tumbuh  hanya  kalau  seseorang  memiliki  rasa   percaya
kepada Allah yang tulus dan penuh.

PENGERTIAN DASAR IMAN

Kita telah mengetahui pengertian iman secara umum, yaitu sikap
percaya, dalam hal ini khususnya  percaya  pada  masing-masing
rukun  iman  yang  enam (menurut akidah Sunni). Karena percaya
pada masing-masing rukun iman itu  memang  mendasari  tindakan
seorang maka sudah tentu pengertian iman yang umum dikenal itu
adalah wajar dan benar.

Namun, dalam dimensinya yang lebih mendalam, iman tidak  cukup
hanya dengan sikap batin yang percaya atau mempercayai sesuatu
belaka,    tapi    menuntut    perwujudan     lahiriah     atau
eksternalisasinya  dalam  tindakan-tindakan.  Dalam pengertian
inilah kita memahami sabda Nabi  bahwa  iman  mempunyai  lebih
dari  tujuh  puluh  tingkat,  yang  paling tinggi ialah ucapan
Tiada Tuhan selain Allah dan yang paling rendah  menyingkirkan
bahaya di jalanan:

Juga  dalam  pengertian  ini  kita  memahami sabda Nabi, "Demi
Allah, ia tidak beriman! Demi Allah, ia tidak  beriman!"  Lalu
orang  bertanya,  "Siapa, wahai Rasul Allah?" Beliau menjawab,
"Orang  yang  tetangganya  tidak  merasa  aman  dari   kelakuan
buruknya."  Lalu  orang  bertanya lagi, "Tingkah laku buruknya
apa?" Beliau Jawab, "Kejahatan dan sikapnya yang menyakitkan."

Juga sabda Nabi, "Demi Dia yang diriku ada di Tangan-Nya, kamu
tidak  akan  masuk  surga sebelum kamu beriman, dan kamu tidak
beriman sebelum  kamu  saling  mencintai.  Belumkah  aku   beri
petunjuk  kamu  tentang  sesuatu  yang jika kamu kerjakan kamu
akan saling mencintai? Sebarkanlah perdamaian di antara sesama
kamu!"

Keterpaduan   antara   iman   dan  perbuatan  yang   baik  juga
dicerminkan dengan jelas dalam sabda  Nabi  bahwa  orang  yang
berzina,  tidaklah  beriman  ketika ia berzina, dan orang yang
meminum arak tidaklah beriman  ketika  ia  meminum  arak,  dan
orang  yang  mencuri  tidaklah  beriman ketika ia mencuri, dan
seseorang  tidak  akan  membuat   teriakan   menakutkan    yang
mengejutkan perhatian orang banyak jika memang ia beriman."

Tiadanya  iman  dari orang yang sedang melakukan kejahatan itu
ialah   karena   iman   itu   terangkat    dari   jiwanya   dan
"melayang-layang di atas kepalanya seperti bayangan." Demikian
itu keterangan tentang iman yang  dikaitkan  dengan  perbuatan
baik  atau  budi pekerti luhur. (Lihat, Ibn Taimiyah, al-Iman,
hal.l2-13).

Berdasarkan itu, maka sesunggahnya makna  iman  dapat  berarti
sejajar  dengan  kebaikan  atau  perbuatan baik. Ini dikuatkan
oleh adanya riwayat tentang orang yang  bertanya  kepada  Nabi
tentang  iman,  namun  turun  wahyu  jawaban tentang kebajikan
(al-birr), yaitu:

Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan wajahmu ke arah
Timur  atau  pun  Barat.  Tetapi  kebajikan  ialah   jika orang
beriman kepada Allah, hari Kemudian, para malaikat, Kitab Suci
dan para Nabi. Dan jika orang mendermakan hartanya, betapa pun
cintanya kepada harta itu, untuk kaum kerabat, anak-anak yatim
orang-orang  miskin,  orang terlantar di perjalanan, dan untuk
orang yang terbelenggu perbudakan.  Kemudian  jika  orang  itu
menegakkan  shalat  dan  mengeluarkan  zakat. Juga mereka yang
menepati janji jika  membuat  perjanjian,  serta  tabah  dalam
kesusahan,  penderitaan  dan  masa-masa  sulit.  Mereka itulah
orang-orang yang tulus, dan  mereka  itulah  orang-orang  yang
bertaqwa." (QS. 2:177).

Oleh karena itu perkataan iman yang digunakan dalam Kitab Suci
dan  sunnah  Nabi  sering  memiliki  makna  yang  sama   dengan
perkataan  kebajikan  (al-birr), taqwa, dan kepatuhan (al-din)
pada  Tuhan  (al-din)  (Lihat  Ibn  Taimiyah,  al-Iman,    hal.
162-153).

PENGERTIAN DASAR IHSAN

Dalam hadits yang disinggung di atas, Nabi menjelaskan, "Ihsan
ialah  bahwa  engkau  menyembah   Allah   seakan-akan    engkau
melihat-Nya,   dan   kalau   engkau  tidak   melihat-Nya,  maka
sesungguhnya Dia melihat engkau."  Maka  ihsan  adalah  ajaran
tentang  penghayatan  pekat  akan  hadirnya Tuhan dalam hidup,
melalui penghayatan diri sebagai sedang menghadap  dan  berada
di depan hadirat-Nya ketika beribadat. Ihsan adalah pendidikan
atau latihan untuk mencapai dalam  arti  sesungguhnya.  Karena
itu,  seperti  dikatakan  Ibn  Taimiyah di atas, ihsan menjadi
puncak tertinggi keagamaan manusia. Ia  tegaskan  bahwa  makna
ihsan  lebih meliputi daripada iman, dan karena itu, pelakunya
adalah lebih khusus daripada  pelaku  iman,  sebagaimana  iman
lebih  meliputi  daripada  Islam,  sehingga  pelaku iman lebih
khusus  daripada  pelaku  Islam.  Sebab  dalam   Ihsan    sudah
terkandung  iman  dan  Islam,  sebagaimana  dalam  iman   sudah
terkandung Islam (Lihat, Ibn Taimiyah, al-Iman, hal. 11).

Kemudian, kata-kata ihsan itu sendiri secara  harfiah  berarti
"berbuat baik." Seorang yang ber-ihsan disebut muhsin, sebagai
seorang  yang  ber-iman  disebut  mu'min  dan  yang   ber-Islam
disebut muslim. Karena itu, sebagai bentuk jenjang penghayatan
keagamaan, ihsan terkait erat sekali dengan pendidikan berbudi
pekerti luhur atau berakhlaq mulia. Disabdakan oleh Nabi bahwa
yang paling utama di kalangan kaum beriman ialah  yang  paling
baik  ahlaqnya,  sebagaimana  disebutkan  dalam  sebuah hadits
. Dirangkaikan dengan sikap pasrah kepada  Allah
atau  Islam,  orang yang ber-ihsan disebutkan dalam Kitab Suci
sebagai orang yang paling baik keagamaannya:
Siapakah yang lebih baik dalam hal agama daripada  orang  yang
memasrahkan (aslama) dirinya kepada Allah dan dia adalah orang
yang berbuat kebaikan (muhsin), lagi pula ia  mengikuti  agama
Ibrahim   secara   tulus  mencari  kebenaran   (hanif-an)  (QS.
al-Nisa: 4:125).

Ihsan dalam arti akhlaq mulia atau pendidikan ke  arah  akhlaq
mulia   sebagai  pucak  keagamaan  dapat  dipahami   juga  dari
beberapa hadits  terkenal  seperti  "Sesungguhnya  aku   diutus
hanyalah   untuk   menyempurnakan   berbagai  keluhuran   budi"
[tulisan  Arab]  dan  sabda  Beliau  lagi  bahwa  yang   paling
memasukkan  orang  ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan
keluhuran budi pekerti.”

Jika kita renungkan lebih jauh,  sesungguhnya  makna-makna  di
atas  itu  tidak  berbeda  jauh dari yang secara umum dipahami
oleh  orang-orang  muslim,  yaitu   bahwa   dimensi    vertikal
pandangan  hidup  kita  (iman  dan  taqwa  –habl  min al-Lah,
dilambangkan oleh takbir pertama atau takbirat al-Ihram  dalam
shalat)  selalu, dan seharusnya, melahirkan dimensi horizontal
pandangan hidup kita  (amal  salih,  akhlaq  mulia,  habl   min
al-nas,  dilambangkan oleh ucapan salam atau taslim pada akhir
shalat).  Jadi  makna-makna  tersebut  sangat  sejalan   dengan
pengertian  umum  tentang  keagamaan.  Maka sebenarnya di sini
hanya dibuat penjabaran sedikit lebih mendalam  dan  penegasan
sedikit lebih kuat terhadap makna-makna umum itu.



Keimanan Dan Cinta
Oktober 20, 2008, 7:36 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

Islam, Hakikat Iman dan Cinta

Oleh Habibullah Bahwi

Selanjutnya, terkait dengan nama Islam sebagai citra simbolik sebuah agama. Abdul Karim Sorous, cendikiawan muslim kritis berkebangsaan Iran memilki pandangan bahwa; Islam yang lahir dengan membawa seperangkat ajaran dan nilai itu, pada hakikatnya merupakan bentuk simbolik dari pesan iman dan cinta, yang mana kedua-duanya berasal dari biji yang sama.

KETIKA ada seorang pemeluk agama bertanya tentang hakikiat agamanya. Jawaban bijak yang mungkin paling sederhana adalah iman dan cinta. Begitu juga, apabila yang bertanya itu kebetulan seorang muslim, dengan bertanya; apakah hakikat Islam itu sesungguhnya,? Maka, jawaban paling bijaknya pun tetap sama, yaitu iman dan cinta. Ini persis dalam semboyan yang diulang-ulang, bahwa Islam itu adalah rahmatan lil-alamin.

Lalu, apa artinya jawaban panjang lebar dan berbelit-belit tentang akidah (teologi), jurisprudensi Islam (fiqh) dan turats (tradisi), serta hal-hal lain yang terkait dengan Islam? Menurut saya, semua itu adalah instrumen formal yang serta-merta akan menyetai pola keimanan dan rasa cinta para pemeluknya. Segudang teori agama, beragam keping budaya dan setumpuk peradaban Islam, tidak lain hanyalah bentuk nyata (implementasi) dari kesatuan iman dan cinta tersebut.

Artinya, apapun yang telah dan akan diaktualisasikan oleh pemeluk Islam dalam bentuk kongkret, bisa dipahami sebagai ungkapan logis dari keimanan dan rasa cinta mereka. Boleh-boleh saja mereka mengungkapkan rasa cinta dan keimanannya itu dalam bentuk disiplin-disiplin fisik (ritual-ritual), dengan membangun komunitas-komunitas budaya, tradisi pemikiran, atau mendirikan sebuah peradaban yang tinggi dan hebat sekaligus. Bahkan, tidak ada larangan apapun yang mengharuskan mereka agar membatasi konstruksi pemahamannya dalam realitas iman dan cinta.

Lalu, mengapa terjadinya konflik-konflik internal antar golongan beragama, ataupun perang hebat antar pemeluk agama? Dalam konteks keberagamaan, bisa kita pahami sebagai bentuk klimaks dari perebutan simbol saja. Karena, boleh disepakati atau tidak, realitas simbol merupakan bagian kuat dari watak dasariyah manusia. Sebagaimana dikemukakan oleh Ernst Cassirer, bahwa “manusia itu adalah makhluk yang simbolik” (animal symbolicum).

Dengan simbol manusia mampu membentuk budayanya, mengungkapkan rasa melalui bentuk-bentuk. Ungkapan simbolis merupakan jalan menuju kebebasan yang berdaya cipta, dan “hidup yang menggunakan lambang-lambang berarti kebebasan sejati”. Demikian menurut Thomas Mann.

Dengan begitu, maka eksistensi nama-nama dari seluruh agama, sama artinya dengan simbol-simbol yang berdaya cipta tinggi. Ada yang namaya agama Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Buddha dan seterusnya. Namun, kalau dari serentetan nama-nama itu, dalam konteks simbol kemudian muncul banyak dikotomi eksistensialis dalam kehidupan para pemeluknya, tentu merupakan hal yang wajar, sesuai dengan watak dasar manusianya yang bersifat simbolik. Bukan karena sifat agamanya.

Tapi, kenapa konflik antarummat beragama masih sering terjadi, apakah karena para pemeluk agama-agama itu tidak mengerti dengan realitas simbol? Jawabannya bisa saja, karena ada beragam citra atau kepentingan-kepentingan terselubung yang digantungkan di balik simbol-simbol itu, sehingga menyebabkan ia terseret kedalam serentetan tindak kekerasan dan penjajahan. Namun, kecenderungan semacam ini tidak akan berlaku di wilayah keimanan, cinta dan pemahaman para pemeluk agama.

Selanjutnya, terkait dengan nama Islam sebagai citra simbolik sebuah agama. Abdul Karim Sorous, cendikiawan muslim kritis berkebangsaan Iran memilki pandangan bahwa; Islam yang lahir dengan membawa seperangkat ajaran dan nilai itu, pada hakikatnya merupakan bentuk simbolik dari pesan iman dan cinta, yang mana kedua-duanya berasal dari biji yang sama.

Menurutnya, dalam struktur iman itu, antusiasme, cinta dan persaksian tumbuh saling berjalin. Setiap orang berhak untuk memuja, mencinta dan bersaksi dalam kesendiriannya. Dengan begitu, iman sangatlah bermusuhan dengan yang namanya kemusyrikan. Baginya, tidak ada hal yang lebih baik dari pemujaan, cinta dan persaksian bersama, sebagaimana tidak ada hal yang lebih buruk daripada pemujaan, cinta dan persaksian yang dipaksakan. Iman yang sejati menurutnya, adalah yang bergantung pada individualitas dan kebebasan, dan penolakan terhadap keduanya sama artinya dengan menolak arti iman yang sesungguhnya. “tidak ada pemaksaan dalam iman dan cinta”, ini bermakna bahwa tangan-tangan tirani tidak berhak menebar benih-benih keagamaan di ladang hati. Tidak ada dekrit raja atau fatwa nalar yang bisa melahirkan atau memperbanyak iman dan cinta.

Kita mungkin dapat menerima pandangan ini, karena secara jelas, memang telah menggambarkan nilai esensif dari agama. Tapi, bisakah kita menerima kalau Islam, Kristen ataupun Yahudi, hanya dianggap sebagai simbol belaka? Nah, pertanyaan inilah sebetulnya yang perlu kita jawab bersama-sama. Dengan kata lain, bisakah kita menghentikan pertikaian memperebutkan simbol-simbol itu, dan melangkah bersama-sama menuju realitas iman dan cinta yang sesungguhnya,?

Nama agama hanyalah simbol, sedangkan kalbu masyarakat beragama adalah iman dan cinta yang dipilih secara bebas, bukan karena paksaan dan penyesuaian. Nabi-nabi itu dipilih hanya untuk menyampaikan “pesan kasih sayang” Tuhan dalam bentuk wahyu. Mereka diperankan sebagai kekasih oleh Tuhan demi menarik hati orang-orang yang bersih dan bajik. Mukjizat yang diberikan kepada mereka dimaksudkan untuk “menundukkan” musuh-musuh Allah, bukan untuk “menakut-nakuti” hati manusia supaya beriman pada mereka. Jadi, para nabi itu pantas dipuja sebagai nabi dan kekasih, bukan sebagai Tuhan yang lepas dari kodrat kemanusiaannya.

Maka dari itu, eksistensi nama-nama agama sebagai sebuah simbol sangat tidak layak untuk kita pertentangkan, baik melalui ajang konflik ataupun dalam bentuk pemaksaan-pemaksaan lain. Sebab, keimanan dan cinta sebagai esensi dari agama adalah hak bebas yang bisa dipilih sendiri oleh masing-masing individu. Maka, setiap tindakan, apapun bentuknya, yang menghapus kebebasan dari keimanan dan cinta, pencerahan dan dinamisme dari pemahaman agama, adalah tindakan yang justeru membahayakan landasan dan makna masyarakat agama.

Memaksa setiap orang supaya beriman secara palsu; melumpuhkan pemikiran dengan indoktrinasi, propaganda dan intimidasi, menutup gerbang kritik, revisi dan modifikasi, agar semua orang tunduk patuh pada satu ideologi tunggal, pastilah tidak akan menciptakan masyarakat yang religius. Melainkan, ini justru akan mencetak masyarakat monolitik yang terteror, lumpuh, pasrah dan hipokrit. Bentuk masyarakat agama yang demikian bukanlah bentuk masyarakat yang dikehendaki Tuhan dan para nabi-Nya.

Dan sebagai penutup dari tulisan ini, saya ingin menyampaikan pesan Jalaluddin Ar-Rumi, seorang pujangga sufi yang tidak pernah lelah berkelana demi keagungan iman dan cinta yang dipujanya. Ia pernah berkata kepada para pengikutnya, “Sambutlah iman dan cinta, pemusnah kemusyrikan yang luar biasa. Berikanlah air pada yang haus, berilah makan pada yang lapar dan bersujudlah atasnama iman dan cintamu demi Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dari rasa cinta-Nya. Ingatlah, bahwa kesombongan dan berulah munafik atas nama-Nya tidak akan pernah menolongmu menuju kemenangan dan perdamaian sejati.” Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin…



Hello world!
September 11, 2008, 4:52 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!