<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Fika11's Weblog</title>
	<atom:link href="http://fika11.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fika11.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 05 May 2009 03:30:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='fika11.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Fika11's Weblog</title>
		<link>http://fika11.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://fika11.wordpress.com/osd.xml" title="Fika11&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://fika11.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Belajar Islam Mulai Diminati Negara Barat</title>
		<link>http://fika11.wordpress.com/2009/05/05/belajar-islam-mulai-diminati-negara-barat/</link>
		<comments>http://fika11.wordpress.com/2009/05/05/belajar-islam-mulai-diminati-negara-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 03:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fika11</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fika11.wordpress.com/2009/05/05/belajar-islam-mulai-diminati-negara-barat/</guid>
		<description><![CDATA[Semakin meningkatnya siswi yang mempelajari pelajaran akademi sekaligus memperdalam pengetahuan mereka tentang Islam, sekolah Islam Al Arqam juga semakin bersinar di Sacramento, ibu kota negara bagian California. “Mereka (Al Arqam) mengajari apa yang perlu kami ketahui tentang Islam,” kata salah satu siswi di Al Arqam yang berusia 14 tahun, Ramseesha Sattar pada Jumat 13 Maret [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fika11.wordpress.com&amp;blog=4816469&amp;post=8&amp;subd=fika11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semakin meningkatnya siswi yang mempelajari pelajaran akademi sekaligus memperdalam pengetahuan mereka tentang Islam, sekolah Islam Al Arqam juga semakin bersinar di Sacramento, ibu kota negara bagian California.</p>
<p>“Mereka (Al Arqam) mengajari apa yang perlu kami ketahui tentang Islam,” kata salah satu siswi di Al Arqam yang berusia 14 tahun, Ramseesha Sattar pada Jumat 13 Maret lalu.<br />
Di dalam sekolah, para siswi diajarkan tentang keutamaan menggunakan Jilbab, menggunakan pakaian sopan namun tetap berkelas, serta memelankan suara ketika terdapat pria di sekitar mereka.<br />
“Saya sangat menyukai berada di sini, dan peraturan-peratutan tersebut tidaklah berat bagiku.”<br />
Berdiri sejak 11 tahun lalu, Al Arqam secara resmi telah mendapat akreditasi dari Asosiasi Sekolah dan Kampus Barat (WASC) sebagai satu-satunya sekolah Islam di wilayah California.<br />
Al Arqam juga telah mendapat persetujuan dari ke-Sarjana-an Internasional sebagai sekolah pertama yang mendapat izin untuk membuka kelas privat (kelas yang biasanya hanya berisi 2-8 siswa) di California.<br />
Sejauh ini sekolah tersebut telah menampung sekitar 300 pelajar, dengan 50 lainnya telah masuk dalam daftar tunggu untuk tingkat pendidikan yang lebih rendah.<br />
Terlebih, karyawan sekolah tesrebut mengutarakan bahwa kebanyakan orang tua dari pelajar Muslim memilih sekolah tersebut daripada sekolah umum agar anak mereka mendapat pengetahuan yang cukup tentang Islam.<br />
“Masyarakat Muslim di sini sangat menghargai pentingnya pendidikan,” kata Wakil Kepala Sekolah Dalia Wardany, yang juga memiliki tiga anak yang bersekolah di Al Arqam.<br />
“Mereka mencari lingkungan yang dapat mengajarkan anak-anak mereka mengenai nilai-nilai Islam.”<br />
Meski berasal dari latar belakang, suku, dan budaya berbeda, para pelajar berbagi satu agama, keyakinan, serta seragam yang menyatukan mereka.<br />
Ketika jam menunjukkan pukul 13.15, para pelajar berhenti dari kegiatan belajar mereka dan bersiap melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah.<br />
“Tidak ada sekolah yang memberikan pendidikan semacam ini,” kata seorang wali murid, Gihad Silmi.<br />
Sekolah tersebut juga telah dinilai berhasil membuka mata rakyat Amerika tentang pandangan mereka terhadap gaya hidup Islam dan Muslim.<br />
“Sekolah tersebut sungguh telah membuka mataku,” kata Angelique Bradley, seorang wali murid SMP St. Francis yang pernah sekali waktu mengunjungi Al Arqam guna mempelajari tentang Islam.<br />
“Saya tidak menyangka sekolah seperti ini dapat berdiri di sini.”<br />
“Saya sangat terkesan dengan sikap para pelajar di sini, terutama sikap sopan mereka ketika menghadapi pengajar,” kagumnya.<br />
Namun, kekaguman tersebut nampaknya belum dirasakan warga Amerika lainnya.<br />
Ossama Kamel, seorang pelajar berusia 15 tahun, seringkali berolah raga bersama beberapa teman non-Muslimnya yang menyindirnya tentang ukuran kelasnya.<br />
“Mereka mengejek, “Di kelasmu hanya ada empat siswa?,” kata Kamel sambil tertawa.<br />
Namun dia mengerti bahwa sedikitnya jumlah pelajar bertujuan agar segala bentuk pelajaran dapat diterima dengan lebih baik.<br />
“Mereka pikir kami dilatih untuk menjadi teroris,” keluh Kamel.<br />
Menurut jajak pendapat yang dilakukan Pusat Penelitian Gereja, sebagian besar penduduk Amerika tidak mengetahui banyak tentang Islam, dan hal tersebut membuat mereka tidak mengakui adanya hubungan antara Islam dan Nasrani.<br />
“Kami belajar bagaimana cara menjadi Muslim yang baik – Muslim Amerika yang baik,” tutup Kamel.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fika11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fika11.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fika11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fika11.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fika11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fika11.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fika11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fika11.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fika11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fika11.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fika11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fika11.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fika11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fika11.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fika11.wordpress.com&amp;blog=4816469&amp;post=8&amp;subd=fika11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fika11.wordpress.com/2009/05/05/belajar-islam-mulai-diminati-negara-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4467e2c1d6bf5900f05b4e996c0da688?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fika11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam</title>
		<link>http://fika11.wordpress.com/2008/12/25/islam/</link>
		<comments>http://fika11.wordpress.com/2008/12/25/islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 02:53:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fika11</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fika11.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[ISLAM, IMAN DAN IHSAN SEBAGAI TRILOGI AJARAN ILAHI oleh Nurcholish Madjid Di antara perbendaharaan kata dalam agama  Islam  ialah  iman, Islam  dan  ihsan.  Berdasarkan  sebuah  hadits yang terkenal, ketiga istilah itu memberi  umat  Islam  (Sunni)  ide  tentang Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Hadir dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fika11.wordpress.com&amp;blog=4816469&amp;post=5&amp;subd=fika11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>ISLAM, IMAN DAN IHSAN<br />
SEBAGAI TRILOGI AJARAN ILAHI</strong><br />
oleh Nurcholish Madjid</p>
<p>Di antara perbendaharaan kata dalam agama  Islam  ialah  iman,<br />
Islam  dan  ihsan.  Berdasarkan  sebuah  hadits yang terkenal,<br />
ketiga istilah itu memberi  umat  Islam  (Sunni)  ide  tentang<br />
Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang<br />
penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup.  Dalam<br />
penglihatan  itu  terkesan  adanya semacam kompartementalisasi<br />
antara  pengertian  masing-masing  istilah  itu,      seolah-olah<br />
setiap  satu  dari  ketiga  noktah  itu  dapat dipahami   secara<br />
tersendiri, dapat bentuk sangkutan tertentu dengan yang lain.</p>
<p>Sudah tentu hakikatnya tidaklah demikian. Setiap pemeluk Islam<br />
mengetahui  dengan  pasti  bahwa  Islam <em>(al-Islam)</em> tidak   absah<br />
tanpa iman<em> (al-iman)</em>, dan  iman  tidak  sempurna  tanpa    ihsan<br />
<em>(al-ihsan)</em>.  Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan<br />
iman juga tidak mungkin  tanpa  inisial  Islam.  Dalam  telaah<br />
lebih lanjut oleh para ahli, ternyata pengertian antara ketiga<br />
istilah itu terkait satu  dengan  yang  lain,  bahkan  tumpang<br />
tindih sehingga setiap satu dari ketiga istilah itu mengandung<br />
makna dua istilah yang lainnya. Dalam iman terdapat Islam  dan<br />
ihsan,  dalam  Islam  terdapat  iman dan ihsan dan dalam ihsan<br />
terdapat iman dan Islam. Dari  sudut  pengertian  inilah  kita<br />
melihat iman, Islam dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahi.</p>
<p>Trilogi  itu  telah  mendapatkan ekspresinya dalam banyak segi<br />
budaya Islam. Arsitektur masjid Indonesia yang banyak diilhami<br />
oleh,  dan  pinjam  dari, gaya arsitektur kuil Hindu, mengenal<br />
adanya seni arsitektur atap bertingkat tiga.  Seni  arsitektur<br />
itu  sering  ditafsirkan  kembali sebagai lambang tiga jenjang<br />
perkembangan  penghayatan  keagamaan  manusia,  yaitu  tingkat<br />
dasar  atau  permulaan  (<em>purwa</em>),  tingkat menengah (<em>madya</em>)   dan<br />
tingkat akhir yang maju dan tinggi (<em>wusana</em>). Dan ini  dianggap<br />
sejajar dengan jenjang vertikal Islam, iman, dan ihsan, selain<br />
juga ada tafsir kesejajarannya dengan syari&#8217;at,  thariqat  dan<br />
ma&#8217;rifat.  Dalam  bahasa  simbolisme,  interpretasi  itu hanya<br />
berarti penguatan pada apa yang secara laten telah  ada  dalam<br />
masyarakat.</p>
<p>Berikut  ini  kita  akan  mencoba, berdasarkan pembahasan para<br />
ulama,  apa  pengertian  ketiga  istilah  itu  dan      bagaimana<br />
wujudnya   dalam   hidup   keagamaan  seorang     pemeluk  Islam.<br />
Diharapkan  bahwa  dengan  memahami  lebih   baik      pengertian<br />
istilah-istilah yang amat penting itu kemampuan kita menangkap<br />
makna luhur agama dan pesan-pesan sucinya dapat ditingkatkan.</p>
<p>Pembahasan secara berurutan pengertian istilah-istilah di atas<br />
-  pertama Islam, kemudian iman dan akhirnya ihsan &#8211; dilakukan<br />
tanpa harus dipahami sebagai pembuatan kategori-kategori  yang<br />
terpisah  -  sebagaimana sudah diisyaratkan &#8211; melainkan karena<br />
keperluan untuk memudahkan pendekatan analitis belaka. Dan  di<br />
akhir  pembahasan  ini  kita  akan  mencoba  melihat   relevansi<br />
nilai-nilai keagamaan dari iman,  Islam  dan  ihsan  itu  bagi<br />
hidup  modern,  dengan  mengikuti pembahasan oleh seorang ahli<br />
psikologi yang sekaligus seorang pemeluk  Islam  yang  percaya<br />
pada  agamanya  dan mampu menerangkan bentuk-bentuk pengalaman<br />
keagamaan Islam.</p>
<p><strong>MAKNA DASAR ISLAM<br />
</strong><br />
Ada indikasi bahwa Islam adalah  inisial  seseorang  masuk  ke<br />
dalam  lingkaran  ajaran  Ilahi.  Sebuah  Ayat Suci melukiskan<br />
bagaimana orang-orang Arab Badui mengakui telah  beriman  tapi<br />
Nabi diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka<br />
belumlah beriman melainkan baru ber-Islam,  sebab  iman  belum<br />
masuk  ke  dalam  hati  mereka  (lihat, QS. al-Hujarat 49:14).<br />
Jadi, iman lebih mendalam daripada Islam, sebab dalam  konteks<br />
firman  itu,  kaum  Arab  Badui tersebut barulah tunduk kepada<br />
Nabi secara lahiriah, dan itulah  makna  kebahasaan  perkataan<br />
&#8220;Islam&#8221;,  yaitu  &#8220;tunduk&#8221; atau &#8220;menyerah.&#8221; Tentang   hadits yang<br />
terkenal yang menggambarkan  pengertian  masing-masing  Islam,<br />
iman  dan  ihsan,  Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa agama memang<br />
terdiri dari tiga unsur: Islam, iman  dan  ihsan,  yang  dalam<br />
ketiga  unsur  itu  terselip  makna  kejenjangan:  orang   mulai<br />
dengan Islam, berkembang ke  arah  iman,  dan  memuncak  dalam<br />
ihsan. Ibn Taimiyah menghubungkan pengertian ini dengan firman<br />
Allah,  &#8220;Kemudian  Kami  (Allah)  wariskan  Kitab  Suci      pada<br />
kalangan para hamba Kami yang Kami pilih, maka dari mereka ada<br />
yang (masih) berbuat  zalim,  dari  mereka  ada  yang     tingkat<br />
pertengahan  (<em>muqtashid</em>),  dan  dari  mereka ada yang   bergegas<br />
dengan berbagai  kebijakan  dengan  izin  Allah&#8221;  (QS.     Fathir<br />
35:32).  Menurut  Ibn  Taimiyah,  orang  yang menerima warisan<br />
Kitab  Suci  (yakni,   mempercayai   dengan      berpegang   pada<br />
ajaran-ajarannya)  namun masih juga berbuat zalim adalah orang<br />
yang baru ber-Islam, menjadi  seorang  Muslim,  suatu  tingkat<br />
permulaan  pelibatan  dari dalam kebenaran. Ia bisa berkembang<br />
menjadi seorang yang beriman, menjadi  seorang  mu&#8217;min,  untuk<br />
mencapai  tingkat  yang  lebih  tinggi, yaitu tingkat menengah<br />
(<em>muqtashid</em>), yaitu orang yang telah  terbebas  dari  perbuatan<br />
zalim,  namun perbuatan kebajikannya sedang-sedang saja. Dalam<br />
tingkatnya yang lebih tinggi, pelibatan diri  dalam  kebenaran<br />
itu  membuat  ia tidak saja terbebas dari perbuatan jahat atau<br />
dzalim dan berbuat baik,  bahkan  ia  &#8220;bergegas&#8221;  dan     menjadi<br />
&#8220;pelomba&#8221;  atau &#8220;pemuka&#8221; (sabiq) dalam berbagai kebaiikan, dan<br />
itulah orang yang telah ber-ihsan,  mencapai  tingkat  seorang<br />
muhsin.  Orang  yang  telah  mencapai tingkat muqtashid dengan<br />
imannya dan tingkat sabiq dengan ihsan-nya, kata Ibn Taimiyah,<br />
akan masuk surga tanpa terlebih dulu mengalami azab. Sedangkan<br />
orang yang pelibatannya dalam kebenaran baru mencapai  tingkat<br />
ber-Islam  sehingga masih sempat berbuat dzalim, ia akan masuk<br />
surga setelah terlebih dulu merasakan azab akibat dosa-dosanya<br />
itu.  Jika  ia tidak bertobat tidak diampuni Allah (Lihat, Ibn<br />
Taimiyah, al-Iman  [Kairo:  Dar  al-Thiba'at  al-Muhammadiyah,<br />
tt.], hal. 11).</p>
<p>Pada  saat ini, tentu saja, kata-kata &#8220;al-Islam&#8221; telah menjadi<br />
nama sebuah agama,  khususnya  agama  yang  dibawa  oleh     Nabi<br />
Muhammad saw. yaitu agama Islam. Tapi, secara generik, &#8220;Islam&#8221;<br />
bukanlah nama dalam arti kata sebagai nama jenis  atau  sebuah<br />
proper noun. Dan ini melibatkan pengertian tentang istilah itu<br />
yang lebih mendalam,  yang  justru  banyak  diketemukan  dalam<br />
Kitab  Suci.  Perkataan  itu,  sebagai  kata benda verbal yang<br />
aktif, mengandung pengertian sikap pada sesuatu, dalam hal ini<br />
sikap  pasrah  atau  menyerahkan  diri kepada Tuhan. Dan sikap<br />
itulah yang disebutkan sebagai sikap keagamaan yang benar  dan<br />
diterima  Tuhan:  &#8220;Sesungguhuya  agama  bagi Allah ialah sikap<br />
pasrah pada-Nya (al-Islam) (QS. Al-Imran  3:19).  Maka  selain<br />
dapat  diartikan sebagai nama sebuah agama, yaitu agama Islam,<br />
perkataan al-Islam dalam  firman  ini  bisa  diartikan  secara<br />
lebih  umum,  yaitu  menurut makna asal atau generiknya, yaitu<br />
&#8220;pasrah kepada Tuhan,&#8221; suatu semangat ajaran  yang  menjadikan<br />
karakteristik  pokok  semua  agama  yang  benar.  Inilah   dasar<br />
pandangan dalam al-Qur&#8217;an bahwa semua agama yang benar  adalah<br />
agama  Islam,  dalam  pengertian  semuanya  mengajarkan     sikap<br />
pasrah kepada Tuhan, sebagaimana antara lain bisa  disimpulkan<br />
dari firman.</p>
<p>Dan  janganlah  kamu sekalian berbantahan dengan para penganut<br />
Kitab Suci (<em>Ahl al-Kitab</em>) melainkan dengan  yang  lebih  baik,<br />
kecuali  terhadap  mereka  yang dzalim. Dan nyatakanlah kepada<br />
mereka itu, &#8220;Kami beriman kepada Kitab  Suci  yang  diturunkan<br />
kepada kami dan kepada yang diturunkan kepada kamu; Tuhan kami<br />
dan  Tuhan  kamu  adalah  Maha  Esa,  dan  kita     semua  pasrah<br />
kepada-Nya (muslimun) (Q.S. al-&#8217;Ankabut 29:46).</p>
<p>Sama dengan perkataan &#8220;<em>al-Islam</em>&#8221; di atas, perkataan &#8220;<em>muslimun</em>&#8220;<br />
dalam  firman  itu  lebih  tepat   diartikan      menurut   makna<br />
generiknya, yaitu &#8220;orang-orang yang pasrah kepada Tuhan.&#8221; Jadi<br />
seperti diisyaratkan  dalam  firman  itu,  perkataan  muslimun<br />
dalam  makna  asalnya  juga  menjadi  kualifikasi para pemeluk<br />
agama lain, khususnya  para  penganut  Kitab  Suci.  Ini     juga<br />
diisyaratkan dalam firman,</p>
<p>Apakah  mereka  mencari  (agama)  selain  agama Tuhan? Padahal<br />
telah pasrah (<em>aslama</em> &#8211; &#8220;ber-Islam&#8221;) kepada-Nya mereka yang ada<br />
di  langit  dan di bumi, dengan taat atau pun secara terpaksa,<br />
dan kepada-Nya-lah semuanya akan kembali.  Nyatakanlah,  &#8220;Kami<br />
percaya kepada Tuhan, dan kepada ajaran yang diturunkan kepada<br />
kami, dan yang  diturunkan  kepada  Ibrahim,  Isma&#8217;il,  Ishaq,<br />
Ya&#8217;qub  serta  anak  turun mereka, dan yang disampaikan kepada<br />
Musa dan &#8216;Isa serta para Nabi yang  lain  dari  Tuhan  mereka.<br />
Kami  tidak  membeda-bedakan mereka itu, dan kita semua pasrah<br />
(<em>muslimun</em>) kepada-Nya. Dan barang siapa menganut agama  selain<br />
sikap  pasrah  (<em>al-Islam</em>)  itu, ia tidak akan diterima, dan di<br />
akkirat termasuk orang-orang  yang  merugi.  (QS.  &#8216;Alu-&#8217;lmran<br />
3:85).</p>
<p>Ibn   Katsir   dalam  tafsirnya  tentang  mereka     yang  pasrah<br />
(muslimun) itu mengatakan yang  dimaksud  ialah  &#8220;mereka  dari<br />
kalangan  umat  ini  yang percaya pada semua Nabi yang diutus,<br />
pada  semua  Kitab  Suci   yang   diturunkan,      mereka   tidak<br />
mengingkarinya sedikitpun, melainkan menerima kebenaran segala<br />
sesuatu yang diturunkan dari sisi Tuhan dan dengan semua  Nabi<br />
yang  dibangkitkan oleh Tuhan&#8221; (Tafsir Ibn Katsir [Beirut: Dar<br />
al-Fikr,  1404  H/1984  M),  jilid  1,  hal.  380).     Sedangkan<br />
al-Zamakhsari  memberi  makna  pada perkataan Muslimun sebagai<br />
"mereka yang bertawhid dan mengikhlaskan diri  pada-Nya,"  dan<br />
mengartikan  al-Islam sebagai sikap memaha-esakan (ber-tawhid)<br />
dan  sikap  pasrah  diri  kepada  Tuhan"  (taisir     al-Kaskshaf<br />
[Teheran:  Intisharat-e  Aftab,  tt.] jilid 1, hal. 442). Dari<br />
berbagai keterangan itu dapat ditegaskan bahwa beragama  tanpa<br />
sikap pasrah kepada Tuhan, betapapun seseorang mengaku sebagai<br />
&#8220;muslim&#8221; atau penganut &#8220;Islam&#8221;, adalah tidak benar  dan     tidak<br />
bakal diterima oleh Tuhan.</p>
<p>Selanjutnya,  penjelasan  yang  sangat  penting  tentang makna<br />
&#8220;al-Islam&#8221; ini juga diberikan oleh Ibn Taimiyah. Ia mengatakan<br />
bahwa  &#8220;al-Islam&#8221;  mengandung dua makna adalah: pertama, ialah<br />
sikap tunduk dan patuh, jadi tidak sombong;  kedua,  ketulusan<br />
dalam  sikap tunduk kepada satu pemilik atau penguasa, seperti<br />
difirmankan Allah, <em>&#8220;wa rajul-an  salam-an  li  rajul-in</em>&#8221;     (Dan<br />
seorang  lelaki  yang  tulus  tunduk kepada satu orang lelaki)<br />
(QS. al-Zumar 39:29). Jadi orang yang tulus itu tidak musyrik,<br />
dan  ia  adalah  seorang hamba yang berserah diri hanya kepada<br />
Allah, Pangeran sekalian alam, sebagaimana Allah firmankan:</p>
<p>Dan siapalah yang tidak  suka  kepada  agama  Ibrahim  kecuali<br />
orang  yang  membodohi  dirinya  sendiri. Padahal sungguh Kami<br />
telah memilihnya di dunia, dan ia di akhirat pastilah termasuk<br />
orang-orang  yang  salih.  Ketika Tuhannya bersabda kepadanya,<br />
&#8220;Berserah dirilah engkau!&#8217;, lalu ia  menjawab,  &#8220;Aku  berserah<br />
diri  (<em>aslam-tu</em>)  kepada Tuhan seru sekalian alam.&#8221; Dan dengan<br />
ajaran itu Ibrahim berpesan kepada anak-anaknya, demikian pula<br />
Ya&#8217;qub.   &#8220;Wahai   anak-anakku,   sesungguhnya      Allah   telah<br />
memilihkan agama untuk kamu sekalian,  maka  janganlah  sampai<br />
kamu   mati   kecuali  kamu  adalah  orang-orang     yang  pasrah<br />
-muslimun- (kepada-Nya) (Q.S. al-Baqarah 2:130-132).</p>
<p>Katakanlah (hai hluhammad), &#8220;,Sesungguhnya  aku  telah  diberi<br />
petunjuk  oleh  Tuhanku  ke arah jalan yang lurus. Yaitu agama<br />
yang tegak, ajaran  Ibrahim,  yang  hanif,  dan  tidaklah     dia<br />
termasuk  orang-orang  musyrik.&#8221;  Katakan juga (hai Muhammad),<br />
&#8220;Sesungguhnya sembahyangku, darmabaktiku, hidupku  dan  matiku<br />
adalah untuk Allah seru sekalian alam, tiada serikat bagi-Nya.<br />
Begitulah aku diperintahkan, dan aku adalah yang pertama  dari<br />
kalangan orang-orang yang pasrah.&#8221; (QS. al-An&#8217;am 6:161-163).</p>
<p>Dan  kembalilah  kamu  semua  kepada  Tuhanmu,  serta   berserah<br />
dirilah kamu semua (aslimu)  kepada-Nya  sebelum  tiba  kepada<br />
kamu  azab,  lalu  kamu  tidak  tertolong  lagi. (QS.   al-Zumar<br />
39:54).</p>
<p>Demikian itu  sebagian  dari  penjelasan  yang  diberikan     Ibn<br />
Taimiyah  tentang  makna al-Islam [lihat, Ibn Taimiyah, al-Amr<br />
bi al-Ma'ruf wa al-Nahy 'an al-Munkar  (Beirut:  Dar  al-Kitab<br />
al-Jadid,  1976, hal. 72-3). Berdasarkan pengertian-pengertian<br />
itu juga harus dipahami penegasan dalam al-Qur'an bahwa  semua<br />
agama  para  Nabi  dan  Rasul adalah agama Islam. Yakni, agama<br />
yang mengajarkan sikap tunduk dan patuh, pasrah  dan  berserah<br />
diri  secara  tulus  kepada  Tuhan  dengan  segala     qudrat dan<br />
iradat-Nya. Maka sebagai  misal,  mengenai  Nabi  Ibrahim  as.<br />
ditegaskan  bahwa  dia bukanlah seorang penganut agama komunal<br />
seperti Yahudi atau Nasrani, melainkan dia adalah seorang yang<br />
tulus  mencari dan mengikuti kebenaran (hanif) dan yang pasrah<br />
kepada Tuhan (muslim) (QS. 'Ali 'Imran 3:67).  Demikian  agama<br />
seluruh  Nabi  keturunan  Ibrahim,  khususnya anak-cucu Ya'qub<br />
atau Bani Israil, sebagaimana dilukiskan dalam penuturan Kitab<br />
Suci, demikian:</p>
<p><em>Adakah kamu menyaksikan tatkala maut datang kepada Ya'qub, dan<br />
ketika ia bertanya kepada anak-anakuya, "Apakah yang akan kamu<br />
sekalian   sembah   sepeninggalku?"   Mereka     menjawab,  "Kami<br />
menyembah Tuhanmu dan Tuhan leluhurmu,  Ibrahim,  Isma'il  dan<br />
Ishaq,  yaitu  Tuhan  Yang Maha Esa, dan kepada-Nya kamu semua<br />
pasrah (muslim) </em>(QS al-Baqarah 2:133).</p>
<p>Kemudian tentang Nabi  Musa  as.  digambarkan  melalui  ucapan<br />
pertobatan  Fir'aun  bahwa dia, Nabi Musa, membawa ajaran agar<br />
manusia pasrah (muslim) kepada Tuhan. Dengan begitu,  agamanya<br />
pun  sebuah  agama Islam. <em>Kata Fir'aun! yang berusaha bertobat<br />
setelah melihat kebenaran,  "Aku  percaya  bahwa  tiada     Tuhan<br />
kecuali  yang  dipercayai  oleh  Bani Israil, dan aku termasuk<br />
orang-orang yang pasrah  -muslimun-  (kepadaNya)</em>"  (QS.    Yunus<br />
90:10).  Demikian pula, sebuah ilustrasi tentang Nabi 'Isa dan<br />
para pengikutnya, menunjukkan bahwa  agama  yang  diajarkannya<br />
pun   adalah   sebuah  agama  Islam,  dalam  arti     agama  yang<br />
mengajarkan sikap pasrah kepada-Nya:</p>
<p><em>Maka ketika 'Isa merasakan adanya  sikap  ingkar  dari  mereka<br />
(kaumnya),  ia  berkata,  "Siapa yang akan menjadi pendukungku<br />
kepada Allah?" Para pengikut setianya (al-Hawariyyun) berkata,<br />
"Kamilah  para  pendukung  (menuju) Allah, kami beriman kepada<br />
Allah, dan saksikanlah  bahwa  kami  adalah  orang-orang  yang<br />
pasrah -muslimun- (kepada-Nya). </em>(QS. 'Ali 'Imran 3:52).</p>
<p>Karena  semua  agama  yang benar adalah agama yang mengajarkan<br />
sikap pasrah kepada Tuhan, maka tidak  ada  agama  atau  sikap<br />
keagamaan yang bakal diterima Tuhan selain sikap pasrah kepada<br />
Tuhan atau Islam itu. Dan karena Islam pada dasarnya  bukanlah<br />
suatu  proper  name  untuk  sebuah  agama tertentu (para Nabi,<br />
Rasul dan umat terdahulu yang  digambarkan  dalam  Kitab  Suci<br />
sebagai  orang-orang  yang  pasrah  kepada Tuhan itu pun tidak<br />
menggunakan lafal harfiah  "Islam"  atau  pun     "muslim")  maka<br />
orang  pemeluk  Islam sekarang ini, juga seorang muslim, masih<br />
tetap dituntut untuk mengembangkan dalam dirinya kemampuan dan<br />
kemauan  untuk  tunduk  patuh  serta  pasrah dan terserah diri<br />
kepada Tuhan dengan setulus-tulusnya. Hanya dengan  itu  agama<br />
dan keagamaan bakal diterima Allah, dan di akhirat tidak bakal<br />
termasuk mereka yang merugi. Inilah yang  sebenarnya  dimaksud<br />
oleh  firman  Allah,  "Sesungguhnya  agama  bagi  Allah     ialah<br />
al-Islam (yaitu sikap pasrah yang tulus kepada-Nya) (QS.  'Ali<br />
'Imran  3:19),  serta  firman Allah: "Dan barangsiapa menganut<br />
selain al-Islam (sikap pasrah kepada Allah) sebagai agama maka<br />
ia tidak akan diterima, dan di akhirat ia akan termasuk mereka<br />
yang menyesal"- (QS. 'Ali 'Imran  3:85).  Sudah  terang  bahwa<br />
Islam  dalam  pengertian  ini  mustahil  tanpa iman, karena ia<br />
dapat tumbuh  hanya  kalau  seseorang  memiliki  rasa     percaya<br />
kepada Allah yang tulus dan penuh.</p>
<p><strong>PENGERTIAN DASAR IMAN<br />
</strong><br />
Kita telah mengetahui pengertian iman secara umum, yaitu sikap<br />
percaya, dalam hal ini khususnya  percaya  pada  masing-masing<br />
rukun  iman  yang  enam (menurut akidah Sunni). Karena percaya<br />
pada masing-masing rukun iman itu  memang  mendasari  tindakan<br />
seorang maka sudah tentu pengertian iman yang umum dikenal itu<br />
adalah wajar dan benar.</p>
<p>Namun, dalam dimensinya yang lebih mendalam, iman tidak  cukup<br />
hanya dengan sikap batin yang percaya atau mempercayai sesuatu<br />
belaka,    tapi    menuntut    perwujudan       lahiriah     atau<br />
eksternalisasinya  dalam  tindakan-tindakan.  Dalam pengertian<br />
inilah kita memahami sabda Nabi  bahwa  iman  mempunyai  lebih<br />
dari  tujuh  puluh  tingkat,  yang  paling tinggi ialah ucapan<br />
Tiada Tuhan selain Allah dan yang paling rendah  menyingkirkan<br />
bahaya di jalanan:</p>
<p>Juga  dalam  pengertian  ini  kita  memahami sabda Nabi,   "Demi<br />
Allah, ia tidak beriman! Demi Allah, ia tidak  beriman!"  Lalu<br />
orang  bertanya,  "Siapa, wahai Rasul Allah?" Beliau menjawab,<br />
"Orang  yang  tetangganya  tidak  merasa  aman  dari     kelakuan<br />
buruknya."  Lalu  orang  bertanya lagi, "Tingkah laku buruknya<br />
apa?" Beliau Jawab, "Kejahatan dan sikapnya yang menyakitkan."</p>
<p>Juga sabda Nabi, "Demi Dia yang diriku ada di Tangan-Nya, kamu<br />
tidak  akan  masuk  surga sebelum kamu beriman, dan kamu tidak<br />
beriman sebelum  kamu  saling  mencintai.  Belumkah  aku     beri<br />
petunjuk  kamu  tentang  sesuatu  yang jika kamu kerjakan kamu<br />
akan saling mencintai? Sebarkanlah perdamaian di antara sesama<br />
kamu!"</p>
<p>Keterpaduan   antara   iman   dan  perbuatan  yang     baik  juga<br />
dicerminkan dengan jelas dalam sabda  Nabi  bahwa  orang  yang<br />
berzina,  tidaklah  beriman  ketika ia berzina, dan orang yang<br />
meminum arak tidaklah beriman  ketika  ia  meminum  arak,  dan<br />
orang  yang  mencuri  tidaklah  beriman ketika ia mencuri, dan<br />
seseorang  tidak  akan  membuat   teriakan   menakutkan      yang<br />
mengejutkan perhatian orang banyak jika memang ia beriman."</p>
<p>Tiadanya  iman  dari orang yang sedang melakukan kejahatan itu<br />
ialah   karena   iman   itu   terangkat      dari   jiwanya   dan<br />
"melayang-layang di atas kepalanya seperti bayangan." Demikian<br />
itu keterangan tentang iman yang  dikaitkan  dengan  perbuatan<br />
baik  atau  budi pekerti luhur. (Lihat, Ibn Taimiyah, al-Iman,<br />
hal.l2-13).</p>
<p>Berdasarkan itu, maka sesunggahnya makna  iman  dapat  berarti<br />
sejajar  dengan  kebaikan  atau  perbuatan baik. Ini dikuatkan<br />
oleh adanya riwayat tentang orang yang  bertanya  kepada  Nabi<br />
tentang  iman,  namun  turun  wahyu  jawaban tentang kebajikan<br />
(al-birr), yaitu:</p>
<p>Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan wajahmu ke arah<br />
Timur  atau  pun  Barat.  Tetapi  kebajikan  ialah     jika orang<br />
beriman kepada Allah, hari Kemudian, para malaikat, Kitab Suci<br />
dan para Nabi. Dan jika orang mendermakan hartanya, betapa pun<br />
cintanya kepada harta itu, untuk kaum kerabat, anak-anak yatim<br />
orang-orang  miskin,  orang terlantar di perjalanan, dan untuk<br />
orang yang terbelenggu perbudakan.  Kemudian  jika  orang  itu<br />
menegakkan  shalat  dan  mengeluarkan  zakat. Juga mereka yang<br />
menepati janji jika  membuat  perjanjian,  serta  tabah  dalam<br />
kesusahan,  penderitaan  dan  masa-masa  sulit.  Mereka itulah<br />
orang-orang yang tulus, dan  mereka  itulah  orang-orang  yang<br />
bertaqwa." (QS. 2:177).</p>
<p>Oleh karena itu perkataan iman yang digunakan dalam Kitab Suci<br />
dan  sunnah  Nabi  sering  memiliki  makna  yang  sama     dengan<br />
perkataan  kebajikan  (al-birr), taqwa, dan kepatuhan (al-din)<br />
pada  Tuhan  (al-din)  (Lihat  Ibn  Taimiyah,  al-Iman,      hal.<br />
162-153).</p>
<p><strong>PENGERTIAN DASAR IHSAN<br />
</strong><br />
Dalam hadits yang disinggung di atas, Nabi menjelaskan, "Ihsan<br />
ialah  bahwa  engkau  menyembah   Allah   seakan-akan      engkau<br />
melihat-Nya,   dan   kalau   engkau  tidak     melihat-Nya,  maka<br />
sesungguhnya Dia melihat engkau."  Maka  ihsan  adalah  ajaran<br />
tentang  penghayatan  pekat  akan  hadirnya Tuhan dalam hidup,<br />
melalui penghayatan diri sebagai sedang menghadap  dan  berada<br />
di depan hadirat-Nya ketika beribadat. Ihsan adalah pendidikan<br />
atau latihan untuk mencapai dalam  arti  sesungguhnya.  Karena<br />
itu,  seperti  dikatakan  Ibn  Taimiyah di atas, ihsan menjadi<br />
puncak tertinggi keagamaan manusia. Ia  tegaskan  bahwa  makna<br />
ihsan  lebih meliputi daripada iman, dan karena itu, pelakunya<br />
adalah lebih khusus daripada  pelaku  iman,  sebagaimana  iman<br />
lebih  meliputi  daripada  Islam,  sehingga  pelaku iman lebih<br />
khusus  daripada  pelaku  Islam.  Sebab  dalam   Ihsan      sudah<br />
terkandung  iman  dan  Islam,  sebagaimana  dalam  iman     sudah<br />
terkandung Islam (Lihat, Ibn Taimiyah, al-Iman, hal. 11).</p>
<p>Kemudian, kata-kata ihsan itu sendiri secara  harfiah  berarti<br />
"berbuat baik." Seorang yang ber-ihsan disebut muhsin, sebagai<br />
seorang  yang  ber-iman  disebut  mu'min  dan  yang     ber-Islam<br />
disebut muslim. Karena itu, sebagai bentuk jenjang penghayatan<br />
keagamaan, ihsan terkait erat sekali dengan pendidikan berbudi<br />
pekerti luhur atau berakhlaq mulia. Disabdakan oleh Nabi bahwa<br />
yang paling utama di kalangan kaum beriman ialah  yang  paling<br />
baik  ahlaqnya,  sebagaimana  disebutkan  dalam  sebuah hadits<br />
. Dirangkaikan dengan sikap pasrah kepada  Allah<br />
atau  Islam,  orang yang ber-ihsan disebutkan dalam Kitab Suci<br />
sebagai orang yang paling baik keagamaannya:<br />
Siapakah yang lebih baik dalam hal agama daripada  orang  yang<br />
memasrahkan (aslama) dirinya kepada Allah dan dia adalah orang<br />
yang berbuat kebaikan (muhsin), lagi pula ia  mengikuti  agama<br />
Ibrahim   secara   tulus  mencari  kebenaran     (hanif-an)  (QS.<br />
al-Nisa: 4:125).</p>
<p>Ihsan dalam arti akhlaq mulia atau pendidikan ke  arah  akhlaq<br />
mulia   sebagai  pucak  keagamaan  dapat  dipahami     juga  dari<br />
beberapa hadits  terkenal  seperti  "Sesungguhnya  aku     diutus<br />
hanyalah   untuk   menyempurnakan   berbagai  keluhuran     budi"<br />
[tulisan  Arab]  dan  sabda  Beliau  lagi  bahwa  yang     paling<br />
memasukkan  orang  ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan<br />
keluhuran budi pekerti.&#8221;</p>
<p>Jika kita renungkan lebih jauh,  sesungguhnya  makna-makna  di<br />
atas  itu  tidak  berbeda  jauh dari yang secara umum dipahami<br />
oleh  orang-orang  muslim,  yaitu   bahwa   dimensi      vertikal<br />
pandangan  hidup  kita  (iman  dan  taqwa  &#8211;habl  min   al-Lah,<br />
dilambangkan oleh takbir pertama atau takbirat al-Ihram  dalam<br />
shalat)  selalu, dan seharusnya, melahirkan dimensi horizontal<br />
pandangan hidup kita  (amal  salih,  akhlaq  mulia,  habl     min<br />
al-nas,  dilambangkan oleh ucapan salam atau taslim pada akhir<br />
shalat).  Jadi  makna-makna  tersebut  sangat  sejalan     dengan<br />
pengertian  umum  tentang  keagamaan.  Maka sebenarnya di sini<br />
hanya dibuat penjabaran sedikit lebih mendalam  dan  penegasan<br />
sedikit lebih kuat terhadap makna-makna umum itu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fika11.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fika11.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fika11.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fika11.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fika11.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fika11.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fika11.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fika11.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fika11.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fika11.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fika11.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fika11.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fika11.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fika11.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fika11.wordpress.com&amp;blog=4816469&amp;post=5&amp;subd=fika11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fika11.wordpress.com/2008/12/25/islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4467e2c1d6bf5900f05b4e996c0da688?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fika11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keimanan Dan Cinta</title>
		<link>http://fika11.wordpress.com/2008/10/20/keimanan-dan-cinta/</link>
		<comments>http://fika11.wordpress.com/2008/10/20/keimanan-dan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 07:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fika11</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fika11.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Islam, Hakikat Iman dan Cinta Oleh Habibullah Bahwi Selanjutnya, terkait dengan nama Islam sebagai citra simbolik sebuah agama. Abdul Karim Sorous, cendikiawan muslim kritis berkebangsaan Iran memilki pandangan bahwa; Islam yang lahir dengan membawa seperangkat ajaran dan nilai itu, pada hakikatnya merupakan bentuk simbolik dari pesan iman dan cinta, yang mana kedua-duanya berasal dari biji [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fika11.wordpress.com&amp;blog=4816469&amp;post=3&amp;subd=fika11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 class="title"><a title="Islam, Hakikat Iman dan Cinta" href="http://islamlib.com/id/artikel/islam-hakikat-iman-dan-cinta/">Islam, Hakikat Iman dan Cinta</a></h1>
<h5 class="author">Oleh Habibullah Bahwi</h5>
<div class="article_content">
<div class="summary">
<p>Selanjutnya, terkait dengan nama Islam sebagai citra simbolik sebuah agama. Abdul Karim Sorous, cendikiawan muslim kritis berkebangsaan Iran memilki pandangan bahwa; Islam yang lahir dengan membawa seperangkat ajaran dan nilai itu, pada hakikatnya merupakan bentuk simbolik dari pesan iman dan cinta, yang mana kedua-duanya berasal dari biji yang sama.</p></div>
<p>KETIKA ada seorang pemeluk agama bertanya tentang hakikiat agamanya. Jawaban bijak yang mungkin paling sederhana adalah iman dan cinta. Begitu juga, apabila yang bertanya itu kebetulan seorang muslim, dengan bertanya; apakah hakikat Islam itu sesungguhnya,? Maka, jawaban paling bijaknya pun tetap sama, yaitu iman dan cinta. Ini persis dalam semboyan yang diulang-ulang, bahwa Islam itu adalah rahmatan lil-alamin.</p>
<p>Lalu, apa artinya jawaban panjang lebar dan berbelit-belit tentang akidah (teologi), jurisprudensi Islam (fiqh) dan turats (tradisi), serta hal-hal lain yang terkait dengan Islam? Menurut saya, semua itu adalah instrumen formal yang serta-merta akan menyetai pola keimanan dan rasa cinta para pemeluknya. Segudang teori agama, beragam keping budaya dan setumpuk peradaban Islam, tidak lain hanyalah bentuk nyata (implementasi) dari kesatuan iman dan cinta tersebut.</p>
<p>Artinya, apapun yang telah dan akan diaktualisasikan oleh pemeluk Islam dalam bentuk kongkret, bisa dipahami sebagai ungkapan logis dari keimanan dan rasa cinta mereka. Boleh-boleh saja mereka mengungkapkan rasa cinta dan keimanannya itu dalam bentuk disiplin-disiplin fisik (ritual-ritual), dengan membangun komunitas-komunitas budaya, tradisi pemikiran, atau mendirikan sebuah peradaban yang tinggi dan hebat sekaligus. Bahkan, tidak ada larangan apapun yang mengharuskan mereka agar membatasi konstruksi pemahamannya dalam realitas iman dan cinta.</p>
<p>Lalu, mengapa terjadinya konflik-konflik internal antar golongan beragama, ataupun perang hebat antar pemeluk agama? Dalam konteks keberagamaan, bisa kita pahami sebagai bentuk klimaks dari perebutan simbol saja. Karena, boleh disepakati atau tidak, realitas simbol merupakan bagian kuat dari watak dasariyah manusia. Sebagaimana dikemukakan oleh Ernst Cassirer, bahwa “manusia itu adalah makhluk yang simbolik” (animal symbolicum).</p>
<p>Dengan simbol manusia mampu membentuk budayanya, mengungkapkan rasa melalui bentuk-bentuk. Ungkapan simbolis merupakan jalan menuju kebebasan yang berdaya cipta, dan “hidup yang menggunakan lambang-lambang berarti kebebasan sejati”. Demikian menurut Thomas Mann.</p>
<p>Dengan begitu, maka eksistensi nama-nama dari seluruh agama, sama artinya dengan simbol-simbol yang berdaya cipta tinggi. Ada yang namaya agama Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Buddha dan seterusnya. Namun, kalau dari serentetan nama-nama itu, dalam konteks simbol kemudian muncul banyak dikotomi eksistensialis dalam kehidupan para pemeluknya, tentu merupakan hal yang wajar, sesuai dengan watak dasar manusianya yang bersifat simbolik. Bukan karena sifat agamanya.</p>
<p>Tapi, kenapa konflik antarummat beragama masih sering terjadi, apakah karena para pemeluk agama-agama itu tidak mengerti dengan realitas simbol? Jawabannya bisa saja, karena ada beragam citra atau kepentingan-kepentingan terselubung yang digantungkan di balik simbol-simbol itu, sehingga menyebabkan ia terseret kedalam serentetan tindak kekerasan dan penjajahan. Namun, kecenderungan semacam ini tidak akan berlaku di wilayah keimanan, cinta dan pemahaman para pemeluk agama.</p>
<p>Selanjutnya, terkait dengan nama Islam sebagai citra simbolik sebuah agama. Abdul Karim Sorous, cendikiawan muslim kritis berkebangsaan Iran memilki pandangan bahwa; Islam yang lahir dengan membawa seperangkat ajaran dan nilai itu, pada hakikatnya merupakan bentuk simbolik dari pesan iman dan cinta, yang mana kedua-duanya berasal dari biji yang sama.</p>
<p>Menurutnya, dalam struktur iman itu, antusiasme, cinta dan persaksian tumbuh saling berjalin. Setiap orang berhak untuk memuja, mencinta dan bersaksi dalam kesendiriannya. Dengan begitu, iman sangatlah bermusuhan dengan yang namanya kemusyrikan. Baginya, tidak ada hal yang lebih baik dari pemujaan, cinta dan persaksian bersama, sebagaimana tidak ada hal yang lebih buruk daripada pemujaan, cinta dan persaksian yang dipaksakan. Iman yang sejati menurutnya, adalah yang bergantung pada individualitas dan kebebasan, dan penolakan terhadap keduanya sama artinya dengan menolak arti iman yang sesungguhnya. “tidak ada pemaksaan dalam iman dan cinta”, ini bermakna bahwa tangan-tangan tirani tidak berhak menebar benih-benih keagamaan di ladang hati. Tidak ada dekrit raja atau fatwa nalar yang bisa melahirkan atau memperbanyak iman dan cinta.</p>
<p>Kita mungkin dapat menerima pandangan ini, karena secara jelas, memang telah menggambarkan nilai esensif dari agama. Tapi, bisakah kita menerima kalau Islam, Kristen ataupun Yahudi, hanya dianggap sebagai simbol belaka? Nah, pertanyaan inilah sebetulnya yang perlu kita jawab bersama-sama. Dengan kata lain, bisakah kita menghentikan pertikaian memperebutkan simbol-simbol itu, dan melangkah bersama-sama menuju realitas iman dan cinta yang sesungguhnya,?</p>
<p>Nama agama hanyalah simbol, sedangkan kalbu masyarakat beragama adalah iman dan cinta yang dipilih secara bebas, bukan karena paksaan dan penyesuaian. Nabi-nabi itu dipilih hanya untuk menyampaikan “pesan kasih sayang” Tuhan dalam bentuk wahyu. Mereka diperankan sebagai kekasih oleh Tuhan demi menarik hati orang-orang yang bersih dan bajik. Mukjizat yang diberikan kepada mereka dimaksudkan untuk “menundukkan” musuh-musuh Allah, bukan untuk “menakut-nakuti” hati manusia supaya beriman pada mereka. Jadi, para nabi itu pantas dipuja sebagai nabi dan kekasih, bukan sebagai Tuhan yang lepas dari kodrat kemanusiaannya.</p>
<p>Maka dari itu, eksistensi nama-nama agama sebagai sebuah simbol sangat tidak layak untuk kita pertentangkan, baik melalui ajang konflik ataupun dalam bentuk pemaksaan-pemaksaan lain. Sebab, keimanan dan cinta sebagai esensi dari agama adalah hak bebas yang bisa dipilih sendiri oleh masing-masing individu. Maka, setiap tindakan, apapun bentuknya, yang menghapus kebebasan dari keimanan dan cinta, pencerahan dan dinamisme dari pemahaman agama, adalah tindakan yang justeru membahayakan landasan dan makna masyarakat agama.</p>
<p>Memaksa setiap orang supaya beriman secara palsu; melumpuhkan pemikiran dengan indoktrinasi, propaganda dan intimidasi, menutup gerbang kritik, revisi dan modifikasi, agar semua orang tunduk patuh pada satu ideologi tunggal, pastilah tidak akan menciptakan masyarakat yang religius. Melainkan, ini justru akan mencetak masyarakat monolitik yang terteror, lumpuh, pasrah dan hipokrit. Bentuk masyarakat agama yang demikian bukanlah bentuk masyarakat yang dikehendaki Tuhan dan para nabi-Nya.</p>
<p>Dan sebagai penutup dari tulisan ini, saya ingin menyampaikan pesan Jalaluddin Ar-Rumi, seorang pujangga sufi yang tidak pernah lelah berkelana demi keagungan iman dan cinta yang dipujanya. Ia pernah berkata kepada para pengikutnya, “Sambutlah iman dan cinta, pemusnah kemusyrikan yang luar biasa. Berikanlah air pada yang haus, berilah makan pada yang lapar dan bersujudlah atasnama iman dan cintamu demi Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dari rasa cinta-Nya. Ingatlah, bahwa kesombongan dan berulah munafik atas nama-Nya tidak akan pernah menolongmu menuju kemenangan dan perdamaian sejati.” Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin…</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fika11.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fika11.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fika11.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fika11.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fika11.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fika11.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fika11.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fika11.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fika11.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fika11.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fika11.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fika11.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fika11.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fika11.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fika11.wordpress.com&amp;blog=4816469&amp;post=3&amp;subd=fika11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fika11.wordpress.com/2008/10/20/keimanan-dan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4467e2c1d6bf5900f05b4e996c0da688?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fika11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://fika11.wordpress.com/2008/09/11/hello-world/</link>
		<comments>http://fika11.wordpress.com/2008/09/11/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 04:52:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fika11</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fika11.wordpress.com&amp;blog=4816469&amp;post=1&amp;subd=fika11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fika11.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fika11.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fika11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fika11.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fika11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fika11.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fika11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fika11.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fika11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fika11.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fika11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fika11.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fika11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fika11.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fika11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fika11.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fika11.wordpress.com&amp;blog=4816469&amp;post=1&amp;subd=fika11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fika11.wordpress.com/2008/09/11/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4467e2c1d6bf5900f05b4e996c0da688?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fika11</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
